serambi salihara
GIMS @Salihara
Saya sedang gemar mengakrabi sudut-sudut Jakarta …lagi.
Pertama kali mengetahui keberadaan Salihara, setelah beberapa kali melihatnya ketika melakukan perajalanan kearah pasar minggu. Untuk menepis penasaran, di suatu kesempatan, saya mampir kesana bersama seorang teman. Saat itu sedang ada acara musikalisasi puisi oleh Sapardi Djoko Darmono, sederhana saja acaranya tapi tak ayal membuat saya melongo dari awal hingga acara berakhir.
Setelah sekian lama, lewat sebuah mention dari seorang lewat di twitter, saya memutuskan untuk ikut kegiatan GIMS atau Gerakan Indonesia Membaca Sastra. Apakah itu GIMS? Baiklah akan coba saya jelaskan sesuai dengan apa yang saya tangkap *dikira bola
*
GIMS adalah salah satu event yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara. Sepengetahuan saya, hanya digelar pada bulan Oktober, setiap Rabu hingga sabtu, jam 3.00 wib s/d jam 7.00 wib. GIMS ini menarik, menurut saya, mengenalkan sastra-sastra asli Indonesia kepada generasi muda sekaligus memberikan sumbangan untuk koleksi perpustakaan tunanetra melalui Yayasan Mitra Netra.
Saya meluncur ke Salihara setelah menyelesaikan suatu kewajiban di daerah menteng Jakarta pusat, beruntunglah jalanan ramah sore itu. Setelah sampai di Salihara, bertemu dengan mbak Lia Koordinator GIMS, lalu bergabung ke Serambi Salihara yang nyaman sekali suasananya. Beberapa teman sudah duduk melingkar, tidak satu pun yang saya kenal, jadilah acara pertama adalah berkenalan dan saling bertukar nama, tapi tidak bertukar pacar lho *mulai lospokus
*
Seorang teman, sedang membacakan cerita dari kumpulan cerita pendek yang termasuk sastra klasik Indonesia “dari Ave Maria ke jalan lain ke Roma” yang ditulis oleh Idrus. Saya pernah membaca buku itu sekali, waktu masih SMA di perpustakaan sekolah, ketika pelajaran olahraga sedang berlangsung dan saya ngaku sedang menstruasi agar diperbolehkan tidak mengikuti jam tersebut
Saya dan beberapa teman yang lain menyimak, sambil menyeruput hot choholate, dipesan dari Kopi Tiam Oey yang berada di bagian depan serambi salihara dan mendapat diskon 15%. Asli … dan saya baru tahu soal diskon itu setelah saya sampai disana, jadi niat saya bersih murni dari pengaruh diskon lho ya
Saya mendapat giliran ke 6, membacakan sebuah cerita pendek berjudul Heiho, menceritakan tentang seorang suami yang berangan-angan menjadi tentara dengan mendaftarkan diri menjadi Heiho, namun apa daya sang istri tidak menyetujui niatnya. Ciri-ciri sastra klasik, yang begitu pandai mengangkat tema-tema sederhana menjadi cerita yang menarik, hanya satu kesulitan saya, tulisan dari buku itu masih memakai ejaan lama, otak mau tidak mau diajak untuk berfikir jika menemukan oe dibaca u, j dibaca y.
Setiap orang yang mendapat giliran membacakan sebuah cerita pendek, akan direkam dalam sebuah kaset untuk kemudian akan dilakukan proses editing. Rekaman cerita tersebut akan disumbangkan untuk teman-teman kita, melalui perpustakaan tuna netra, Yayasan Mitra Netra.
Dalam kegiatan ini, yang tidak hobi membaca bisa mendengarkan, ketika salah satu dari kami membacakan sebuah cerita, dan rekaman cerita tersebut dapat didengarkan oleh teman-teman tuna netra. Satu simpul memberi manfaat untuk tiga arah.
Oh iya, saya juga sempat bertukar sapa dengan mbak Ayu Utami, sayang sekali fotonya tidak sengaja terhapus.
Penasaran dengan Salihara, sekali waktu sempatkan berkunjung kesana
@BukuBerkaki di Monas
Foto diambil dr fanpage @BukuBerkaki
Satu lagi, dari sekian banyak manfaat yang saya peroleh dari social media. Mengenal teman-tema yang selalu mempunyai ide brilian untuk bermanfaat bagi sesamanya. BukuBerkaki dicetuskan oleh mbak @shelvywaseso , berangkat dari keinginannya untuk menyebarkan virus gemar membaca terutama bagi anak-anak. Pun demikian, keadaan tidak selalu memungkinkan untuk mendapatkan bahan bacaan yang sesuai bagi mereka, semisal, adik-adik yang berada dipanti asuhan.
Akhirnya tercetus satu pola kegiatan, berkunjung dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain dengan membawa koleksi buku-buku untuk dibaca sendiri maupun dibacakan oleh kakak-kakak yang tergabung di komunitas @BukuBerkaki yang kerap disebut Krucil.
Untuk mengumpulkan koleksi buku-buku tersebut, Komunitas @BukuBerkaki menggelar drop spot sumbangan buku di Monumen Nasional, selama beberapa kesempatan di hari minggu. Sederhana saja idenya, tapi membutuhkan ketekunan luar biasa agar program ini berjalan lancar dan memberikan banyak manfaat bagi anak-anak dan sesama.
Ingin berkontribusi di kegiatan ini? Silakan follow akun @BukuBerkaki atau fanpagenya di Fb BukuBerkaki.
Ditunggu ya kakak
Masih banyak hal yang mungkin belum saya sempat kunjungi di Jakarta, mungkin kali lain akan saya teruskan mengenali sisi-sisi penuh manfaat yang dihasilkan dari penghuni-penghuni hebat kota Jakarta. Pada satu waktu Jakarta mungkin pernah membuat saya kesal bukan kepalang, pada satu saat nanti, mungkin akan saya rindukan.
Terimakasih telah mengajari saya untuk selalu berusaha bermanfaat bagi sekitar, sampai jumpa di kesempatan berikutnya.
Feel Good by Doing Good – @justsilly
Read More