First of all, ini bukan judul sinetron bersambung apalagi FTV.

Tanggal 30 Maret adalah due date kelahiran si bayi, seperti yang di ingatkan oleh Dokter Spog saya.  Tapi sampai habis bulan Maret, bayi saya tetep anteng di dalam perut, gerak-gerak sedikit tapi habis itu ya enjoy lagi ngubek di perut ibunya.

Berhubung persediaan bahan makanan di rumah sudah menipis, akhirnya tanggal 3 April sore hari saya, suami dan mami memutuskan untuk belanja bulanan, sekalian mampir ke RS yang direncanakan menjadi tempat kelahiran si bayi.

Sebelum membelok ke swalayan terdekat, kami memutuskan untuk mampir ke RS terlebih dahulu. Karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, kami memutuskan untuk ke UGD Ruang bersalin, entahlah sore itu saya merasa ada yang beda dengan perut saya. Di rumah sih, belum ada tanda-tanda persalinan, hanya saja perasaan saya mengatakan saya harus ke dokter atau bidan untuk mengetahui kondisi bayi saya. Begitu diperiksa ternyata saya sudah bukaan 1, oh my God, rasanya campur aduk, berarti sebentar lagi saya akan merasakan proses persalinan yang baru pertama kali ini saya alami.

Karena posisi bayi sudah di bawah, bidan jaga menyarankan untuk langsung menginap di RS, alhamdulillah, tas persiapan kelahiran sudah siap di mobil. Akhirnya saya menempati sebuah kamar bersalin bernomor 2. Menanti bukaan berikutnya saya masih bisa jalan-jalan dan ngakak-ngakak nonton OVJ bareng suami yang mendadak terserang ngantuk luar biasa. Iya ketika saya pringisan nahan nyerinya bukaan per bukaan, mas bojo malah ngorok di sofa pojokan kamar, melek sebentar kalau saya panggil lalu mendekat dan ngelus-ngelus pinggang 2 menit dan balik lagi ngorok di sofa. MASS INI HASIL PERBUATAN MU MASS!!!

*digaplok bantal guling*

Continue reading


Jadi emak itu memang harus gaul. Paling tidak mengerti perkembangan musik yang lagi digandrungi anaknya, begitu kesimpulan yang bisa saya ambil dari huru hara di rumah saya tempo hari.

Rumah saya dan rumah beberapa tante dan om memang berdekatan, hanya terpisah halaman. Di samping rumah saya pas, adalah rumah tante yang memiliki satu-satunya anak lelaki yang masih di rumah karena baru berumur belasan tahun.

Continue reading


stock-vector-happy-pregnant-woman-with-umbrella-in-the-rain-104707832

 

Baiklah …. ini bukan salah satu prompt atau flash fiction, tapi curhat colongan ibu-ibu hamdun tua yang sedang memasuki trimester ketiga ya.

Alhamdulillah, dari trimester pertama, kedua dan akhirnya ketiga ini, semua bisa terlewati dengan menyenangkan. Kemarin sempat istirahat seminggu karena demam dan #babyloenpia yang tiba-tiba rajin kontraksi padahal umur kehamilan saya masih 36 minggu. Tapi setelah diajak cuti seminggu, semua kembali berjalan normal.

Minggu ini, saya juga resmi cuti di rumah, menunggu kelahiran #babyloenpia sesuai perkiraan dokter yang kurang lebih 2 minggu lagi due datenya. Mulai keliling nyari perlengkapan yang kurang, mempersiapkan ini itu untuk dibawa ke rumah sakit dan juga memantapkan hati untuk memilih tempat lahiran. Sedangkan suwamik sibuk ngobrak-abrik tatanan dalam rumah, ini ga aman buat bayi … itu perlu dipasang kelambu … yang sana dipasang gorden, kayak anaknya tau-tau habis lahir langsung jalan-jalan aja.

By the way, sebelum saya memasuki trimester ketiga, karena sudah melewati trimester pertama dan kedua dengan sukses, sempet sedikit sombong dan jumawa kalau trimester ketiga ini bakal terlewati juga dengan keciiil *sambil menjentikkan jari*

Alhasil, minggu pertama di trimester ketiga, saya pun demam dan disusul diare dengan sukses. Untung saja #babyloenpia ini tahan banting, akhirnya biarpun emaknya sudah kleleran gara-gara kebanyakan nyatronin kamar mandi tetep saja dia excited, apalagi kalau menjelang tidur dan diajak toss tangan sama ayahnya. Continue reading


Rasanya baru kemarin, melihat dua garis yang berdekatan di test pack di dini hari yang dingin di awal Ramadhan, ternyata sekarang sudah waktunya saya ngisi form cuti dengan alasan khusus, cuti melahirkan *sroooot* *seka ingus pake ujung jilbab #eh *

Minggu ini memang minggu terakhir saya berada di kantor, sebelum saya mengajukan cuti hamil selama 3 bulan. Meskipun form belum disetujui sama pak bos, gara-gara pak bos lupa pasword untuk masuk ke SDM online i dont want to see

Suami sudah bolak-balik mengingatkan, untuk segera menyelesaikan tetek bengek pengurusan cuti, maklumlah, dia tipe-tipe yang selalu mempersiapkan segala sesuatu dengan perfect. Lain sama saya yang slebor dan santai wae tapi tetep manis dan penuh pesona *diguyur manisan tebu*

Continue reading


Tidak dipungkiri, ritual nonton film di Bioskop apalagi di akhir minggu adalah pilihan potensial bagi beberapa orang untuk melewati waktu bersama orang-orang tercinta. Entah itu bersama pasangan, anak maupun teman dan sahabat.

Akhir minggu kemarin, saya dan suwamik memutuskan untuk menyaksikan aksi Bruce Willis yang konon masih sedahsyat aksi-aksi sebelumnya di filmnya yang terbaru : A Good Day To Die Hard. Pilihan jatuh di studio XXI di sebuah mol yang lumayan cukup besar di Semarang.

Setelah menunggu sebentar, saya dan suwamik sudah duduk manis di deretan nomor dua dari belakang. Berbekal sebotol minuman bukan keras dengan beberapa camilan, kami anteng menunggu layar yang sedang menyiarkan iklan Mtix yang enggak banget itu berganti dengan film yang akan diputar. Selang beberapa menit, tiba-tiba cengerrrr … ada suara anak balita kira-kira berusia 1,5 tahun menangis dengan hebohnya. Saya pandang-pandangan dengan suwamik, belum lagi mengeluarkan komentar, dari arah belakang ada yang nyelutuk

“Gila anak balita diajak nonton Die Hard ini yang gila siapa?” saya dan suwamik hanya urun senyum.

Continue reading


Akhirnya postingan tentang hamdun lagi *ngikik*

Semoga temen-temen yang sempat menyambangi blog saya ini ndak bosan ya, habis bagaimana lagi, saya lagi excited banget sama bayik yang sekarang alhamdulillah sudah rajin nendang dan muter-muter di perut. :)

Alhamdulillah lagi, akhirnya saya memasuki trimester ke-3 dengan sehat dan tanpa kerepotan yang berarti *ciyum – ciyum #babyloenpia*. Kondisi badan juga ga ngedrop, perbedaan yang paling mencolok sih, kalau habis duduk di lantai, trus mau berdiri rasanya agak susah, tapi selebihnya sih oke dan berjalan menyenangkan.  angel

Dan saudara-saudara, di trimester 3 ini, kompromi pertama yang menyangkut keberadaan #babyloenpia adalah upacara mitoni atau 7 bulanan. Yess, berhubung ini cucu dari anak pertama dari pihak suwamik, mami mertua semangatnya melebihi tentara vietnam yang katanya berhasil ngalahin temen-temennya Rambo.

Berhubung ayah dan ibunya #babyloenpia semuanya ada di luar kota, akhirnya mami dan ibu saya yang repot menyiapkan ugo rampe untuk upacara mitoni, saya dan suwamik tinggal pasang badan sambil cengar – cengir. Bahkan dengan polosnya, mas suwamik bilang

“lhoh Mi, ini aku ndak pake latihan dulu?” dikata mau pentas drum band apa ya. :|

Dengan penawaran sana sini, dengan tujuan untuk mengurangi keribetan tata caranya, akhirnya pada hari sabtu, 7 bulanan #babyloenpia dilaksanakan. Acara dimulai dengan pengajian ibu-ibu gengnya neneknya #babyloenpia. Gahar-gahar gini, pas diminta baca doa untuk ibu hamil, kok ya saya ndak bisa nahan mewek, alhasil saya baca doa sambil mimbik-mimbik ga jelas gitu.

Setelah acara pengajian, sementara teman dan handai taulan menikmati jajan pasar. Acara adat pun dimulai, memang tidak semua ritual adat dijalankan, alasan utamanya sih biar ga terlalu ribet. Baiklah, secara garis besar yang saya ingat sih, tata cara yang kemarin dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Upacara Siraman

Catatan pertama, kenapa hanya ibunya #babyloenpia yang disiram? Kenapa ayahnya ndak? Mana air di rumah dingin banget … ini ga fair!! *halah*

Upacara siraman dilakukan di rumah, ya iyalah masak di sawah. Dengan dekorasi sederhana, hasil karya mami dan adik bungsu saya, akhirnya saya pun disiram oleh 7 ibu-ibu yang dipilih dengan kriteria sudah pernah mantu. Dibuka dengan eyang putri, ibu saya, lalu ibu-ibu yang notabene masih kerabat, dan ditutup dengan mami mertua. Satu orang menyiram sebanyak 3 kali, asoy kan? dan suwamik yang bertugas meladeni untuk mengambilkan air malah cengengesan di belakang saya *toyor suwamik*

satu

Cengkir Gading yang dilukis Bapak :) , kostum siraman yang dibuat mami, kerepotan yang di siapkan Ibu, kiss

Continue reading


Dion menekan bel di apartemen nomor 212 itu dengan malas, satu kali, dua kali, bel berdentang dan belum ada jawaban dari si empunya kamar. Dion mengambil telepon genggam dari saku celananya, mencari nama Rio dan melakukan panggilan.

Masih saja tidak terjawab.

Tiba-tiba telepon genggamnya bergetar, ada notifikasi whatsap yang masuk.

“Lu dimana?”

“Didepan apartemen lu”

“Oh ok. Elu langsung masuk kamar aja dulu ya. Gw masih mandi nih”

Mehhh… Dion nyengir. Jaman sekarang. Mandi, hape juga dibawa. Watsapan sambil mandi. Dion terkekeh sendiri. Dia menuju kamar nomor dua di deretan kanan. Dibukanya pintu yang memang tak pernah terkunci, lalu masuk.

Kamar itu tak terlalu luas. Dipenuhi dengan barang-barang praktis. Dion menggelesot di lantai bersandarkan tempat tidur. Tapi tiba-tiba matanya tertarik pada sesuatu yang berwarna merah yang sedikit menyembul keluar dari bawah bantal. Penasaran, karena hampir tak ada baju setahu Dion yang berwarna merah di kamar ini, ditariknya benda berwarna merah itu.

Dion terkesiap. G-String? G-String warna merah?

Continue reading


Liburan panjang itu menyenangkan, apalagi yang sedang menjalani LDR seperti saya ini. Terkadang waktu liburan belum datang saja, jauh-jauh hari sudah sibuk merencanakan ini itu untuk melewatinya.

Dan ternyata, rencana liburan itu tidak hanya terbersit di pikiran saya, tapi di pikiran berjuta-juta orang yang hidup di dunia ini *baiklah … mulai lebay*

Akhirnya tiket ke luar kota menjadi alamakjang mahalnya, jalanan juga padat merayap, dan ndilalah hujan juga jarang absen mengguyur bumi selama libur hari Natal dan Tahun Baru kemarin. Tanpa perlu hompimpah saya dan suwamik memutuskan untuk glundang-glundung di rumah saja, paling keluar sebentar di seputaran rumah, ndak jauh-jauh, karena kondisi saya juga lagi hamdun, takut kecapekan, padahal ini #babyloenpia setiap diajak jalan semakin excited lunjak-lunjak di perut.

Jadi … mau tahu tips liburan asyik ala keluarga Wardhana?

Continue reading


Beberapa waktu yang lalu, di akhir minggu, menjelang tidur, saya menemukan sehelai uban di kepala suami saya.

“Woogh aku sudah tua ternyata” begitu komentarnya, saat saya mencabut helai uban itu dan menunjukkan kepadanya.

Entahlah, apakah parameter tua harus didasarkan pada uban, padahal banyak juga dari teman-teman saya yang masih muda tapi sudah beruban, dan tidak membuatnya nampak tua.

happy birthday rama

time flies …. happy birthday Rama :D  

Continue reading