Tidak dipungkiri, ritual nonton film di Bioskop apalagi di akhir minggu adalah pilihan potensial bagi beberapa orang untuk melewati waktu bersama orang-orang tercinta. Entah itu bersama pasangan, anak maupun teman dan sahabat.

Akhir minggu kemarin, saya dan suwamik memutuskan untuk menyaksikan aksi Bruce Willis yang konon masih sedahsyat aksi-aksi sebelumnya di filmnya yang terbaru : A Good Day To Die Hard. Pilihan jatuh di studio XXI di sebuah mol yang lumayan cukup besar di Semarang.

Setelah menunggu sebentar, saya dan suwamik sudah duduk manis di deretan nomor dua dari belakang. Berbekal sebotol minuman bukan keras dengan beberapa camilan, kami anteng menunggu layar yang sedang menyiarkan iklan Mtix yang enggak banget itu berganti dengan film yang akan diputar. Selang beberapa menit, tiba-tiba cengerrrr … ada suara anak balita kira-kira berusia 1,5 tahun menangis dengan hebohnya. Saya pandang-pandangan dengan suwamik, belum lagi mengeluarkan komentar, dari arah belakang ada yang nyelutuk

“Gila anak balita diajak nonton Die Hard ini yang gila siapa?” saya dan suwamik hanya urun senyum.

Jujur saja, ini bukan kali pertama saya menemui ada anak kecil yang tiba-tiba nyelip diantara orang-orang dewasa menonton film yang dewasa juga, misalnya James Bond. Sepanjang serial James Bond yang pernah saya tonton, blm pernah ada James Bond versi Syariah sehingga memungkinkan anak umur 4 atau 5 tahun bisa dengan aman untuk ikut menyaksikan.

Kondisi ini akhirnya membuka percakapan yang #rauwisuwis bersama suwamik, sepanjang perjalanan pulang. Sebenarnya ini tanggung jawab siapa? Apakah pengelola bioskop sebagai satu-satunya pemegang kendali lewat petugas tiket untuk meloloskan atau tidak penonton yang tidak memenuhi kriteria umur dari jenis film yang diputar. Suwamik sih berpendapat, bahwa pengelola tidak dapat sepenuhnya disalahkan, karena kategori umur di masing – masing film adalah bersifat himbauan, bukan aturan murni yang memiliki punishment ketika tidak dijalankan.

Dih percakapan yang sungguh serius sepanjang perjalanan karir kami berdua sebagai suwamik istrik.

Kembali ke acara nonton tadi, meskipun Bruce Willis sudah tidak bisa dibilang muda lagi, tapi perutnya masih lumayan kotak-kotak boo … *halah*

Secara cerita sih tidak jauh beda dengan sekuel Die Hard yang lalu-lalu, bagaimana si John Mclane ini selalu terjebak dan menjebakkan diri dengan masalah. Tapi rupanya sekuel kali ini adalah sekuel reuni keluarga …. *mulai jadi spoiler* *digaplok rame-rame*

Trus nih ya, pas lagi serius melototin film, tiba-tiba

“Cekrek … clap” ada suara kamera dan blitz dooooongggg sodara-sodara.

Asli … rasanya pengen saya lempar pake sepatu itu deretan di depan, biar cekikikannya langsung diam. Untunglah sepatu saya baru … jadi saya ga ikhlas juga kalau saya lempar ke arah deretan ABG-ABG yang narsisnya kebangetan itu.

Sutralah yaa … A Good Day To Die Hard ini memang tidak sepenuhnya membuat hari saya Good, tapi toh setidaknya saya jadi mikir, apa mungkin attitude ketika berada di Bioskop perlu dijadikan kurikulum di mana kek, agar semua penonton bisa menjaga perilakunya supaya tidak mengganggu penonton yang lain. Ini saya belum menyoroti yang suka bikin film sendiri di pojok bioskop #eh.

Akhirnya saya mengucapkan selamat kepada teman-teman yang berniat menonton, semoga niatnya tercapai dan terlaksana dengan indah. Lumayan kok, meskipun di beberapa adegan memang benar-benar membuktikan bahwa klan Mclane itu susah mati, tapi double twist menjelang ending film cukup membuat terkejut.

Dan setelah menyaksikan film itu, meskipun dengan beberapa gangguan saya mempunyai satu pertanyaan dan satu kesimpulan :

Pertanyaan   : Apakah A GOOD DAY TO DIE HARD ini disponsori oleh Good Day-nya Nescafe?

Kesimpulan   : Ternyata Die Hard itu semacam keturunan …

*ditonyo Bruce Willis*

Have A Good Day Everyone party

 

 

 

 

 


7 Comments

  1. Posted February 12, 2013 at 1:26 am | Permalink

    klo balita, mungkin ortunya nganggep umur segitu belum terlalu ngerti, paling di bioskop bobok2 ajah. penjaganya mungkin mikir gitu juga kali yaah makanya lolos big grin
    naah klo yang clap2 blitz itu tuuuh… *lempar bungkus popcorn isi barbel*

  2. Posted February 12, 2013 at 9:07 am | Permalink

    berkisah dari perihal attitude di bioskop dan yang paling sering saya alami adalah lirik-lirik pasangan muda yang biasanya nangkrin di pojok-pojok dinding macam cicak dan sedang asik bergumul bibir … yihaaaa \o/

    mengenai pelemmnya …. akan saya siapkan tanggal baik untuk menontonnya, dan sepertinya midnight adalah waktu yang baik dan terhindar dari gangguan-gangguan yang tidak seharusnya big grin

    sekian dan terima nasi kotak tongue

  3. Posted February 12, 2013 at 12:39 pm | Permalink

    saya suka banget baca tulisan ini. Keren ya FF-nya mbak. Saya pengin pinter bikin cerita macam ini mbak.Mhn masukannya someday winking

  4. Posted March 1, 2013 at 5:58 am | Permalink

    beli tiket gratis kopi gitu ya mbak? aku rung nonton, dan ge pengen nonton kuwi.. ra mati2 jeeee laughing

  5. Posted March 11, 2013 at 5:09 am | Permalink

    :lol: wkwkwkwkwkwkwkwk… *datang cuma mo ketawa*

  6. Posted September 12, 2013 at 2:31 am | Permalink

    film ini suka banget saya,hehe happy

  7. Posted December 11, 2013 at 6:51 am | Permalink

    selalu suka bruce

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − 4 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>